Rabu, 20 Januari 2010

PUISI-PUISI

ANTARA CINTA DAN FISIKA

Rumus-rumus cinta meraja lela

Membuatnya semua menjadi gila

Hukum-hukum reaksi untuk gigi

Mncibir wajah berbentuk gergaji

Mobilmelaju kau hitung

Batu jatuh kau persoalkan

Bikin kepala menjadi ling-lung

Serasa enggan mengerjakan

Aneh tapi nyata...

Lewat kaca mata

Mata senyummu memfokus lewat jantungku

Gaya tarik wajahmu melebihi gaya tarik bumi

Aku bingung, sebingung hasil kuadrat cintaku padamu

Yang menghasilkan 1001 khayalan

Bisa tidak di padukan antara cinta dan fisika, rama dan shinta?

Bilang bisa dan bisa

Selama hukum Newton III aksi dan reaksi

Dan semuanya akan terjawab jika nilai fisika 7

Serta calon mertua setuju.

HATI YANG TERDAMPAR

Percakapan detik mulai bergelisah

Membeja waktu kian rentah

Gelap yang di panggil senja

Angin menari di atas ubun-ubun

Aku hanyalah segumpal kebisuan

Rasa yang terlukis di relung cakrawala

Yang terseret jauh dari pasir duka

Tebing hati berserakan sudah bergilat

Sambil menatap cahaya gelap

Dari kepalsuan cerita cinta

Namun...

Apalah makna sebuah mak perlawanan

Di pojok jeritan yang menglupas sia-sia

Debu-debu telah hilang entah kemana

Bagaikan lingkaran nestapa

PERJALANAN HIDUP

Dunia ini ada-ada saja aku harus menjawab apa…?

Mengapa kelukaan, kehampaan kini melanda diri ini

Mengapa dia insan yang sangat aku cintai

Begitu tega menduakanku dan membagi cintanya terhadap orang lain

Ya tuhan..... !!!

Adakah ini semua cobaan terhadap hambamu ini

Yang mendambakan cinta dan kasih

dari seseorang yang dia perbuat begitu

malam telah berteman dengan bulan

namun ceria tetap di ruang mata

setangkai mawar

itulah dirimu

adakah dirimu masih mencintaiku... ?

adakah orang lain di hatimu selain diriku... ?

dan adakah cinta lain selain cintamu di hatiku... ?

TERSIKSA KERINDUAN

Tersungkur dalam kerinduan yang menggebu dan menderu

Melangkahkan kaki dengan gontai menyusuri jalan-jalan terjam suram

Semakin jauh ku alami hidup semakin perih derita yang ku alami

Derita nestapa yang menimpa terasa membakar stiap relung kalbu

Dan meninggalkan bekas goresan dalam yang menganga

Ku telusuri tebing-tebing ketidakberdayaan

Memangku sejuta hasrat membara

Namun semuanya berlalu begitu saja

Tanpa meninggalkan kata-kata yang bisa mengurangi pedihnya derita.

CRITA AIR MATA

Hari ini, aku melihat kau meneteskan air mata

Ketika kabar datang tentang ketidak pastian

Namun ia telah menyelimuti selurah tubahmu

Aku tau, air matamu kepedihan yang mmbisu

Sebab rembulan yang pernah kau tunjukkan padaku

Ternyata cahayanya tak seterang cintamu

Hari ini gunung di sukmamu

Hancur lebur berbentuk remuk

Sebuah peristiwa sedang berlangsung

Dalam kenyataan mengguyurkan impianmu

Impian yang pernah kau lukiskan pada bait do’amu

Kau meneteskan air mata kembali

Mari kita cerita, tapi bukan berceritakan air mata

Air matamulah melambangkan air lautmu

Dan kau telah berenang dalam duka abadi

Esok hari, air matamu mengring di lembah waktu

Berganti dengan suara perih tawamu

Hingga aku tau senandung nyanyian ceriamu

Melepaskan seribu sembilu yang kekal.


KENANGAN

Di tengah kesunyian malam yang kian mencekam

Di tengah ilalang yang melukis panorama malam

Berdirilah angin derita, dan rinduku padamu di waktu lampau

Di tengah dermaga yang menuju pulau cinta dan cinta

Hatiku terasa hampa

Tiada sehelai kabutpun yang menyinari hatiku

Dan tiada angin buritan yang mendesir membelai hatiku

Pulau cinta yang pernah ku tinggalkan

Seolah melambai-lambai

Dan memanggil ku tuk kembali bersama sang ratu cinta

Harapan hampa menyelubung dalam benak sanubari

Menggemang dan mengambang di tengah lautan

Tepian cakrawala yang hanyut tanpa kisah dan makna

Yang membekas dalam jiwa kasih sayang

Sayang akan fatamorgana

Yang membias dalam pandangan.



PERPISAHAN

Hari ini lonceng perpisahan telah bergema

Sudah cukup lama kita mengarungi samudra

Penuh bahaya dan derita kita rasa

Amat jauh jarak yang kita tempuh

Namun sekarang perpisahan tak terelakkan lagi

Bersama-sama kita akan mengikuti takdir perjalanan kita

Seorang diri, aku harus pergi mencari ulang pengembaraanku

Meski terpisah oleh lautan di hutan rimba

Namun kita tetap seperjalanan jua

Dalam mencari keridlaan Allah SWT.

Berilah aku sedikit do’a

Agar aku dapat menjalani semua ini

Mengakhiri cerita remaja dan mengubur dalam

Aku berjanji kaulah sahabat terbaikku.


DOA BAGI PARA DEWA

Wahai sang maha pendengar

Mungkin tinggal kau yang bisa mendengar

Suara serak kami yang lapar

Sebab wakil kami telah jadi dewa

Yang hanya buka telinga bagi para pemuja

Wahai sang maha terpuji

Mungkin tinggal kau yang bisa menilai

Gerak pekerti kami dianggap salah arti

Sebab tembang dewa menghijab hati

Yang hanya terpuji oleh dupa dan sesaji

Wahai sang pemberi makna

Mungkin diri kami salah menerka

Visi dan misi ediologi mereka

Sebab tari dewa kadung menutup mata

Hanya tinggal satu makna

Semoga……

45 dewa takut bara neraka

45 dewa rindu wangi surga

Sebab pertanggung jawaban

Bukan sekedar surga neraka

Jumat 17 juli 2009



NADA-NADA RINDU

Kala pagi berbias warna jingga

Dan burung-burung berkicau dengan rindunya

Ingin ku sebut namamu

Dengan nada-nada rindu

Ingin ku raih bayangmu dalam dekapanku

Selalu bersama hadirnya malam

Ku bawa hati khusuk dalam do’a

Ya tuhan kami…

Jagalah hatiku dan hatinya

Agar senantiasa terpelihara kata “setia”

Tak akan tercapai cita-cita

Tanpa adanya usaha

Tak akan terlukis kata cinta

Tanpa adanya deraian air mata

Tak akan abadi sebuah cinta

Tanpa adanya saling jujur dan percaya.




RACUN CINTA

Bila Pana cinta telah menghunjam hati dan jantung

Maka tiada yang dapat di lakukan

Kecuali mengikuti jalan cinta

Dalam cinta

Ada keindahan yang menyimpan kepahitan

Hanya cinta

Yang memenuhi fikran si pemuda dan pemudi

Kedua insan itu

Larut dalam pesona cinta

Yang nikmat di hiasi dengan senyum dan tangis rindu

Mereka melewatkan waktu

Dan hanyut dalam bahasa jiwa

Terkesima dengan cinta

Yang ada dalam hati mereka

Seolah berada dalam taman sorga.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar